Ayo, Buka Aibmu di Medsos

By -

Mediasiber  telah menyimpan semua identitas diri.

S
aya punya kebiasaan unik sewaktu kuliah dulu, yakni mengkliping berita-berita menarik dari koran atau majalah. Laporan media itu saya gunting dan saya tempel di kertas HVS kemudian saya taruh di kotak khusus, biasanya kotak bekas kemasan mie instan. Bagi saya potongan kliping berita itu adalah arsip penting yang suatu saat pasti bisa saya gunakan; minimal sebagai data untuk penelitian atau menulis.

Kebiasaan ini pada mulanya berasal dari undangan seorang dosen tempat saya kuliah, Pak Abror begitu saya dan teman-teman memanggilnya. Ia sepertinya sering “memerlukan” bantuan saya dalam hal komputer. Maklumlah di awal tahun 90-an itu yang namanya komputer masing sangat asing dan program pengetikan pun tidak seperti sekarang yang super canggih. Saya ingat betul namanya Wordstar 3. Pokoknya kalau mau menulis harus hafal luar kepala kode-kode khusus.

Nah, Pak Abror ini memiliki satu ruang khusus di rumahnya. Di ruang itu ada rak dari kerangka besi yang berjejer membentuk huruf U mulai dari pintu masuk, hanya satu bagian dinding ruang itu saja yang ditempati meja dan perangkat bekerjanya termasuk komputer. Saya melihat di rak-rak itu banyak tersimpan buku, kertas kliping, bundelan laporan, tumpukan koran, bahkan kotak-kotak yang saya yakin isinya adalah sesuatu yang penting.

Saat itu saya pun berbisik dalam hati, “suatu saat nanti saya akan memiliki ruang yang sama seperti ini”. Tapi, itu dulu. Sekarang saya tidak pernah membayangkan jika kebiasaan itu tekun dan konsisten saya lakukan sampai saat ini. Mungkin saya harus memiliki sebuah ruang khusus untuk menyimpan ratusan, ribuan, atau jutaan lembar kliping berita sementara saya masih tinggal di rumah kontrakan dua kamar yang sudah penuh dengan barang-barang rumah tangga. Tidak hanya itu, tentu akan sangat merepotkan untuk me-refresh ingatan tentang sebuah berita juga di kotak penyimpanan mana kliping itu saya taruh.

Anehnya, meski dalam bentuk yang berbeda, ternyata bisikan hati itu menjadi nyata saat ini.

Media Baru dan Arsip

Salah satu karakteristik dari media baru menurut Gane and Beer (2008:71)adalah archive atau bisa disebut dengan istilah penyimpanan (arsip). Dalam media baru archive harus dipahami dalam kerangka teknologi komunikasi yang mengubah cara kita untuk menghasilkan, mengakses, hingga menaruh informasi itu sendiri. Ini jelas berbeda dengan istilah arsip yang selama ini dipahami sebagai sebuah kumpulan dokumen yang memuat informasi tertentu  disimpan di sebuah  tempat—bisa  lemari, ruang atau gudang–  dan hanya bisa diakses oleh orang tertentu. Juga, dalam perspektif media baru, sebuah arsip tidak hanya terdiri dari teks semata, melainkan juga sudah bisa memuat foto, film, maupun suara.

Media baru juga memungkinkan seseorang untuk melakukan perubahan terhadap arsip yang tersimpan. Sebagaimana dijelaskan oleh Arjun Appadurai (2003:17) bahwa setidaknya ada dua hal perubahan terhadap arsip dengan munculnya teknologi komunikasi, yakni 1) kemampuan dari setiap pengguna internet untuk mengakses arsip dan melakukan perubahan terhadapnya dan 2) terhadap arsip itu sendiri menjadi lebih berkembang dikarenakan apa yang disebut Appadurai sebagai ‘the nature and distributions of its users’.

Karena arsip dalam hal ini tidak hanya dipandang sebagai hanya dokumen resmi tertentu yang disimpan, melainkan internet itu sendiri dengan jaringan, distribusi informasi, dan mediasi antara manusia-mesin menjadi semacam tempat penyimpan data-data. Jejaring (network) yang ada di internet menghubungkan jutaan komputer yang ada di dunia di mana komputer-komputer itu menyimpan data-data apa saja sesuai dengan yang dibutuhkan.

Saya tidak perlu kerepotan lagi untuk mencari lema atau data sesuatu. Tinggal buka mesin pencari seperti Google.com dan memasukkan kata kunci, maka dalam hitungan detik saya akan disuguhkan data yang saya cari. Bahkan mencari tugas-tugas kuliah pun tinggal buka internet; sayangnya saya sering menemukan mahasiswa model copy paste ini yang seenaknya menyerahkan tugas kuliah yang saya berikan hasil dari plagiasi arsip tugas di internet.

Media Sosial

K
ehadiran situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter menjadi perangkat lunak  yang memungkinkan sebuah arsip dari individu pengguna itu terjadi. Bahwa situs jejaring sosial tersebut memiliki fasilitas untuk menyimpan aktivitas dari penggunanya, seperti foto-foto kegiatan, serta fasilitas ‘wall’ yang memungkinkan pengguna menulis status apa yang sedang dipikirkan, peristiwa apa yang sedang dialami, sampai pendapat mereka tentang sebuah peristiwa. Semua aktifitas ini akan tersimpan di database Facebook dan menjadi arsip yang bisa diakses tidak hanya oleh pengguna, melainkan juga oleh pengunjung, baik yang memiliki tautan akun dengan pengguna maupun tidak.

Tidak hanya itu, arsip berupa teks di dinding Facebook juga bisa secara alamiah berkembang dikarenakan pengunjung juga bisa ikut mengomentari atau sekadar memberikan tanda ‘like’ untuk sebuah status yang dibuat. Dalam konteks ini Beer menegaskan:

Fenomena yang disebut Beer ini tidak sekadar berhenti pada bagaimana pengguna internet itu menyimpan data pribadi mereka di dunia virtual, melainkan telah menjadi budaya yang termediasi dan memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial; baik itu budaya untuk mengungkapkan diri (self disclosure) maupun mengkonstruksi identitas diri. Fenomena ini disebut  Bauman (2000) sebagai ‘individualization’ yang melibatkan distribusi informasi dari persoalan privasi pribadi (the oikos) pada ruang publik (the eclesia) sebagaimana pertemuan antara hal-hal yang privasi dan ruang publik (the agora).

Contoh lain dari perkembangan sebuah arsip di era internet ini adalah dengan adanya fasilitas ‘tag’ (tanda) maupun aktifitas ‘tagging’ (menandai). Fasilitas ini memungkinkan seseorang untuk memberikan tanda bagi data yang disimpan dalam penyimpanan virtual di internet. Sama seperti kode pemanggil dalam buku, tanda memungkinkan pengguna internet maupu internet itu sendiri mengenali data yang tersimpan sesuai dengan tanda yang dibuat. Tidak hanya sebatas mengenali semata, tanda juga memberikan pilihan terhadap pengguna untuk bisa mengkases arsip lainnya yang memiliki tanda yang sama. Artinya, satu data arsip yang tersimpan di internet bisa jadi ketika dipanggil atau dicari tidak hanya memunculkan data yang dimaksud, melainkan memunculkan puluhan bahkan ribuan data yang bertanda sama.

Akses Tak Terbatas

Maka tak heran jika saya tidak perlu kenal dengan seseorang, mengetahui apa hobi dan kegemarannya, bahkan saya bisa tahu makanan apa yang disukai orang itu. Sekarang cukup buka Facebook dan membongkar apa yang diunggah oleh pemilik akun tersebut atau orang lain, maka saya langsung bisa mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan. Malah saya bisa memantau setiap saat perasaan atau peristiwa orang tersebut.

Saya bukan ingin berpikir pesimis apalagi mencari kabing hitam, tetapi sebuah arsip di internet bisa jadi adalah data yang membuka aib kita. Ya, sebuah data yang tersimpan di internet bukanlah data yang bisa seenaknya dihapus oleh kita. Sebab, karakteristik arsip saat ini tidak dimonopoli pengunggahannya oleh sang pemilik arsip, melainkan oleh siapa saja.

Bayangkan saya pernah diperlihatkan sebuah video di internet yang kebetulan salah satu orang di video itu adalah mahasiswa saya. Mungkin saya akan bangga kalau video itu adalah pencapaiannya misalnya dalam sebuah pertandingan, tapi kok ya video itu adalah video tak senonoh. Aduh… tepok jidat saya. Kok, yang beginian yang membuka aib bisa-bisanya diunggah di internet dan menjadi arsip pula sehingga sampai kapanpun siapa saja bisa melihatnya.

Jangan-jangan inilah penggambaran kecil dari “hari penghakiman itu” versi di dunia dimana semuanya akan menjadi saksi. Kalau tidak percaya, tulis nama Anda di Google.com dan lihatlah arsip atau kesaksian apa yang ditampilkan di sana; lebih banyak mana antara kebaikan dan keburukan. Duh!

Wallahua’lam

(73)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

2 Comments to Ayo, Buka Aibmu di Medsos

  1. Iyayah…jadi ikutan galau nih dng trend ramai2 buka aib ke medsos plus upload segala foto. Trims sharingnya Pak… ?

  2. jadi ingat video yang lagi hits itu. si pengunggahnya sudah menghapus dari akun youtubenya, tapi konten videonya masih bisa dilihat di akun orang lain. hadeuh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *