Tips

Attitude Blogger: Menghadiri Undangan

Secara kata sih “attitude” itu menurut kamus Oxford artinya sikap. Nah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari lima arti “sikap” saya lebih senang merujuk pada arti perilaku atau gerak-gerik.

Pengertian perilaku ini lebih cenderung dalam kajian komunikasi antarbudaya merujuk pada nilai-nilai yang dipercayai berlaku di tengah masyarakat. Nilai-nilai itu sendiri merupakan kepercayaan yang ada dan menjadi sandaran bagi anggota masyarakat atau komunitas yang ada di dalamnya.

Misalnya nilai religius yang bisa dimaknai bahwa setiap perilaku keseharian hendaknya merujuk pada nilai-nilai sesuai dengan ajaran agama maupun kepercayaan masing-masing.

Nilai tersebut juga membawa pada muara adanya sikap saling menghormati maupun menghargai di antara kita. Tidak terkecuali blogger tentunya yang sejatinya adalah manusia yang punya perasaan dan pastinya pikiran. Karena blogger sejatinya adalah manusia biasa yang kata syair lagunya abang Rhoma Irama “Sebagai manusia yang punya pemikiran, Kalau tak kenal Tuhan maka seperti hewan”. Bukan begituh Hanih?…. jreeennggg

Tentunya masyarakat adalah komunitas yang berbeda di setiap wilayah. Ada perilaku yang bisa diterima dan ada juga perilaku yang tidak bisa diterima atau minimal dianggap aneh oleh orang lain.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi sebagai blogger beberapa tahun ini dan dikombinasikan dengan pengalaman sebagai jurnalis lebih dari 18 tahun plus sesiung pengetahuan sebagai dosen media dan budaya, saya mencoba sedikit berbagi soal attitude seorang blogger. Kali ini saya akan membahas saat blogger menghadiri undangan.

Saya akan memulainya dari ilustrasi beberapa peristiwa yang sering atau berulang kali terjadi dengan blogger. Mungkin peristiwa ini tidak terlalu persis dan saya menuliskan di sini bukan untuk mengatakan bahwa semua blogger seperti apa yang akan saya gambarkan. Ingat… hanya sekadar contoh.

Sudah daftar, maka wajib hadir di sebuah acara

[DONT] Jangan pernah sering tidak hadir ke sebuah acara atau kegiatan yang kita sudah mendaftar untuk ikut. Kadang kala pihak penyelenggara hanya membatasi jumlah blogger yang hadir dan undangan kepada blogger tertentu kadang merupakan bentuk penghormatan kepada yang bersangkutan.

Saya pernah daftar ke sebuah acara, tapi saya tidak bisa hadir karena ada keperluan mendadak. Salahnya saya tidak memberitahukan kepada penanggung jawab acara. Keesokan harinya saya seperti menyesal karena pilihan itu dan tentunya kasian si penanggung jawab.

Ketidakhadiran blogger yang sudah mendaftar, juga terkait penilaian perusahaan atau perorangan yang mempercayakan kepada blogger lain untuk mengundang. Tentu kita tidak ingin sahabat blogger kita dinilai tidak mampu menghadiri blogger yang diundang karena kenyataannya dari jatah yang disediakan hanya terisi beberapa saja.

[DO] Maka, ketika sudah mendaftar ke sebuah acara (1) harus datang tepat waktu dan kalau perlu 30 menit sebelum acara dimulai sudah ada di lokasi dan langsung mengabarkan kepada koordinator blogger yang mengelola kegiatan. (2) Hormati etika dan aturan terkait dengan acara. Pilihan kostum harus menyesuaikan dengan acara yang bersangkutan. Jika kesan atau undangannya formal, maka blogger harus berpakaian formal juga.

Nama tidak ada di daftar hadir.

Seringkali terjadi bahwa nama yang bersangkutan tidak ada di dalam daftar hadir. Ada dua kondisi mengapa nama sang blogger tidak ada di dalam daftar hadir: (1) yang bersangkutan memang tidak diundang dalam sebuah acara atau kegiatan tersebut; dan (2) panitia lupa untuk mencantumkan nama sang blogger.

[DONT] Seringkali karena merasa dirinya adalah blogger femes atau euforia dengan identitas kebloggerannya, ketika tidak menemukan namanya langsung mencak-mencak dan kadang dengan suara yang intonasinya menyita perhatian orang di sekitar.

Yang lebih tidak habis pikir lagi adalah blogge yang berani-beraninya datang di sebuah acara padahal acara tersebut adalah cara khusus untuk undangan yang hadir. Nah, kalau sudah begini kadang ada loh yang bikin kesel sampai ke ubun-ubun. Pihak pertama yang kesel adalah penyelenggara. Kalo orangnya gak enakan mau gak mau si penyelenggara akan mempersilahkan si blogger untuk registrasi dan mengikuti acara.

Pihak kedua yang kesel abis tentu koordinator acara yang seringnya adalah blogger sendiri. Nah, tentu merasa malu si koordinator itu karena yang disediakan jatah 10 orang misalnya eh yang datang 11 orang. Satu orang itu adalah blogger yang sering di sebut belakangan ini sebagai “blogger penyusup“.

[DO] Apa yang dilakukan ketika nama kita tidak ada di lembar registrasi atau daftar hadir? Gampang… kontak orang pertama yang mengundang kita. Biar orang itu sebagai penanggung jawab blogger yang akan menyelesaikannya. Jangan coba-coba atau sok untuk menyelesaikannya sendiri karena selain, bisa jadi, panitia yang kita ajak bicara hanya sebagai petugas penerima tamu saja tentu ada hubungan kedekatan yang belum terjalin dengan penyelenggara acara selain dari si penanggung jawab itu.

Jangan mudah tersinggung

Terkadang di lapangan atau di sebuah acara, ada penyelenggara yang membedakan antara undangan biasa, undangan media, dan undangan blogger. Nah, pembedaan ini tentunya merupakan administrasi belaka untuk memudahkan pranata humas atau bagian humas menjalin komunikasi lebih lanjut.

[DONT] Jangan langsung berburuk sangka bahwa pembedaan itu akan berakibat pembedaan pelayanan antara undangan biasa, media dan blogger. Sebuah acara yang digelar oleh perusahaan, institusi atau perorangan–selanjutnya akan disebut klien–tentu menjadi pertaruhan besar jika membedakan undangan yang hadir. Kecuali memang undangan itu berdasarkan kelas-kelas struktur pejabat, misalnya dihadiri oleh presiden, menteri dan sebagainya. Tentu kita sebagai blogger gak bisa seenaknya duduk sembarangan.

[DO] Yang perlu dilakukan adalah jangan sulit dan pelit mengatakan maaf. Bahkan ketika “diusir halus” dari tempat duduk yang sudah kita duduki karena ada orang lain yang menurut pembuat acara “lebih penting”, maka kita harus mengatakan maaf dan dengan elegan serta berkelas pindah ke tempat duduk lain.

Pahami panitia acara yang mungkin sibuknya luar biasa di lokasi acara. Kita blogger hanyalah undangan yang sama dan salah satu bagian dari orang-orang yang hadir. Jadi wajar saja jika penanggung jawab acara dari klien tidak memberikan perhatian yang serius. Jangan mengira karena hanya di sapa sekali di saat acara kita langsung beranggapan bahwa blogger di nomor duakan.

Percayalah kata bang Rhoma Irama…. dalam lagu Derita di Balik tawa: “Betapa harus ku tersenyum, Sementara hati menangis”

Goodie Bag dan Door Prize

[DONT] Diberikan goodie bag sebagai oleh-oleh adalah keberkahan dan rezeki. Yang namanya rezeki jangan ditolak. Tapi, jangan sampai ngejar-ngejar panitia penyelenggara karena tidak kebagian goodie bag. Atau karena di saat acara tidak ada “jatah” blogger yang dapat door prize langsung beranggapan bahwa klien pilih kasih dan tidak menghargai blogger. Apalagi sampai ditulis di blog, sebarin hal beginian di akun medsosnya…. deuuuhhhh…

[DO] Jika terpaksa harus bertanya soal “jatah” goodie bag, maka biarkan koordinator yang mengurusnya. Jangan langsung bertanya kepada panitia yang hadir karena bisa jadi, sekali lagi, ia hanyalah petugas penerima tamu saja bukan orang yang bisa memberikan solusi. Selain itu, dengan cara tadi kita tidak mempermalukan pengundang acara.

Datang sendiri dan jangan bawa orang lain

[DONT] Jika diundang sendiri, ya datang sendiri. Jangan tiba-tiba datang ke sebuah acara bawa-bawa orang lain. Ada loh lokasi acara yang kursinya hanya terbatas pada jumlah undangan yang disebar.

[DO] Sekali lagi… jangan bawa orang lain ketika menghadiri undangan. Entah itu saudara, keponakan, teman, sahabat, pacar, suami, istri, apalagi bawa satu RT ke lokasi acara. Bisa jadi karena membawa anak kecil, misalnya, ternyata lokasi acara dan jenis acaranya untuk orang-orang yang berkategori dewasa.

Kalau pun terpakasa harus mengajak orang lain, maka beritahukan kepada koordinator blogger atau orang yang mengundang soal kondisi kita. Berikan alasan yang tepat dan yang paling penting adalah berikan janji bahwa orang yang kita ajak tidak akan memberikan gangguan atau kehebohan selama acara berlangsung.

Jika seandainya pengundang tetap melarang kita datang baik dengan bahasa langsung atau dengan bahasa halus, maka ikuti. Jika terpaksa tidak bisa meninggalkan atau harus membawa orang lain, maka sadar dirilah untuk segera melempar undangan ini kepada orang lain.

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

27 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!