Catatan

Air Mata Dosen

Suatu ketika di sekitar tahun 2009 atau 2010, saya lupa kapan tepatnya, saya mengenalnya melalui absensi kelas. Saat itu saya adalah pengampu salah satu matakuliah di program studi jurnalistik pada sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Mahasiswa itu, sebut saja Bunga, eh, berperawakan biasa saja; sama seperti mahasiswa jurnalistik pada umumnya. Sering mengenakan celana jeans, berbaju kaos dengan sesekali mengenakan kemeja flanel, dan rambut pendek yang dibiarkan acak-acakan. Paling yang berbeda adalah matanya yang sering saya melihat seperti selalu menahan kantuk.

Selama perkuliahan, mahasiswa itu saya lihat semangat sekali. Sesekali ia membawa tas yang dari bentuk dan rupanya seperti ada sebuah kamera di dalamnya.

Saya sempat bertanya dan dijawab bahwa ini tidak sekadar hobi atau karena salah satu mata kuliah yang membahas tentang fotografi, melainkan sebuah cita-cita.

“Saya gabung di komunitas fotografi, Kang,” katanya menyebutkan dua nama organisasi mahasiswa peminat fotografi di kampus.

Saat menjelang akhir semester, ada pameran foto yang memajang hasil-hasil mahasiswa. Saya melihat fotonya punya ciri seorang jurnalis foto dalam dirinya. Tapi, saat itu saya melihatnya biasa saja. Toh, sebagai mahasiswa program studi jurnalistik, jika ia menyenangi fotografi tentu adalah hal yang lumrah dan wajar.

Tetapi, di antara semua mahasiswa, saya yang kala itu menjadi redaktur media online yang berkantor di Palmerah Barat beberapa kali terbantu olehnya. Satu dua acara kampus atau demonstrasi mahasiswa yang terjadi saya selalu mengontaknya. Memakai fotonya dan kadang informasi yang bisa diolah menjadi berita. Tentu ada credit title yang disematkan kepadanya.

Suatu ketika mahasiswa itu mengabarkan bahwa ada aksi mahasiswa di kampus dan pihak keamanan sempat melontarkan gas air mata. Ada lemparan batu, entah siapa yang memulai dan memprovokasi. Kebetulan saya ada di sana, namun karena harus menjaga desk di kantor saya harus meninggalkan lokasi dan antisipasi yang dilakukan saya adalah memintanya mengambil gambar.

Mahasiswa itu menyanggupi dan tidak sampai satu jam ketika saya duduk di kantor, email saya memberi tanda dan ketika dibuka ada lebih tiga foto di sana. Rupanya dari mahasiswa itu. Saya memakainya untuk dijadikan berita saat itu; saya agak lupa apakah berita itu menjadi headline atau tidak.

Selang beberapa hari kemudian saya bertemu dengannya. Saya langsung mengucapkan terima kasih atas bantuannya. “Fotonya mantaf,” kata saya pakai ‘F’ bukan ‘P’.

Si mahasiswa tersenyum, kemudian katanya, “Tapi lensa saya pecah, Kang, kena lempar batu.”

Wajah saya langsung kaget. “Loh, kok bisa?”

“Iya situasinya seperti tidak terkendali. gas air mata membuat mata saya perih dan tiba-tiba saja ada batu yang melayang. Untung kena lensa aja,” jawabnya tenang. Sebaris senyum tergurat di wajahnya.

Kami pun duduk bersama. Bercerita west and east alias ngalor-ngidul. Tapi di antara cerita yang mengalir, ada satu yang masih membekas di dalam ingatan saya.

“Saya dulu sampai semester empat kerja nambal ban, Kang,” katanya dengan suara tercekat, “itu satu-satunya usaha saya dan penghasilan untuk membiayai hidup sehari-hari dan membayar uang kuliah.”

Waktu itu saya hanya mendengarnya dengan seksama.

“Nah, pas semester lima, kan ada matakuliah fotografi. Makanya saya jual kompresor dan saya belikan kamera. Ini kamera yang ada di tangan saya sekarang ini.”

Ia menarik napas sejenak.

“Saya hobi sekali dengan foto dan punya cita-cita kelak akan menjadi jurnalis foto. ”

Dari mulutnya saya mendengar bagaimana ceritanya tentang hidup di keluarga tidak mampu. Yang selalu memikirkan besok akan makan apa dan bagaimana mendapatkan uang. Yang selalu tidak berani membayangkan hari esok karena seringkali hanya kekecewaan yang diterima.

Mahasiswa itu bahkan tetap dengan senyumannya terua bercerita tentang bagaimana perjuangan orang tuanya, perjuangan dirinya sendiri, dan bagaimana ia bekerja di luar jam kuliah sebagai penambal ban di pinggir jalan.

Saya tahu, bahwa senyum itu kadang adalah obat untuk sekadar melupakan kondisi hidupnya yang pahit.

Bagi saya… mahasiswa tersebut adalah gambaran bagaimana tidak semua orang punya keberuntungan dan keberanian. Keberuntungan hidup berkecukupan dan keberanian mengorbankan modal mata pencarian untuk ‘sekadar hobi’ dan ‘sekadar tugas kuliah’.

Hingga suatu saat kemudian. Di semester tujuh atau delapan, lagi-lagi saya lupa, saya mendengarnya menjadi stringer atau jurnalis foto lepas di sebuah lembaga pemberitaan. Satu foto yang dipakai oleh lembaga itu si mahasiswa mendapatkan bayaran sekitar 50 ribu rupiah.

Selang satu semester berganti saya mendengar ia menjadi jurnalis foto di sebuah media nasional. Bahkan tanpa sengaja saya dan ia pernah berpapasan ketika melaksanakan tugas jurnalis di lapangan.

Saat itu saya bersyukur dan sedikit menangis. Saya tahu bagaimana perjuangannya. Tidak banyak yang berani mengorbankan satu-satunya sumber mata pencarian demia sebuah keinginan. Lapar? Jangan ditanya berapa usaha yang dilakukan demi melewatinya.

Saya juga tahu bagaimana reputasi media yang besar dan bermula dari sebuah majalah itu. Ratusan mungkin ribuan orang mengantri untuk bisa bekerja di sana. Tidak hanya di dalam negeri, reputasi media itu sudah mendunia.

Tapi… si mahasiswa yang bahkan ijazah S1-nya belum dipegangnya itu bisa menyingkirkan ratusan pelamar. Namannya selalu bisa saya lihat di berbagai terbitan milik media tersebut.

Suatu saat saya yang sudah berpindah dan menjadi pemimpin redaksi sebuah situs wisata online berencana melakukan liputan di daerah Banten. Saat bertemu dengan mahasiswa itu, yang sudah lulus dan menyandang gelar sarjana, kami berencana melalukan perjalanan jurnalistik bersama-sama.

Maka dibuatlah temu janji, di waktu dan lokasi yang sudah ditentukan.

Dan saat hari-H tiba, sebuah mobil menghampiri saya dan dari dalam jendela saya melihatnya dengan sebuah senyuman… dan dengan mata yang selalu terlihat mengatuk di benak saya. “Ayo, Kang, saya yang nyetir,” itu katanya.

Antara tidak percaya dan sedikit terpengarah, saya menaiki mobil berwarna abu-abu tersebut. “Baru, nih?” kata saya.

Ia tersenyum kecil. “Nyicil, Kang,” jawabnya.

Di perjalanan, saya mendengarnya bercerita tentang mobil yang sudah dimilikinya, rumah di kompleks yang juga ia bayar secara mencicil setiap bulan, dan tentu orang tuanya yang sudah tidak khawatir lagi setiap harinya.

Saat memotret, saya nelihatnya dengan bangga. Ia adalah mahasiswa saya dan kini kami bisa bekerja dengan profesi yang sama.

Ia yang kini bisa dengan bangganya menunjukkan kepada siapapun siapa dirinya.

Ia bukan lagi mahasiswa dan pekerja tambal ban lagi. Profesinya kini sebagai jurnalis foto dari media ternama.

Ia yang di kartu namanya tertera kata TEMPO…

“Makasih, Kang, saya inget betul apa yang Akang ajarin di kelas,” katanya sambil mengendalikan roda empat.

Saat itu, saya menangis. Mungkin ia tidak mengetahuinya, tapi saya sungguh menangis.

Air-mata-dosen

Namun, ini betulan dosen yang menangis. Bukan karena honornya sering terlambat atau bahkan sering tidak dibayar oleh kampus, kalau itu mungkin sudah kering airmatanya. Bukan pula membincangkan nasib dosen yang kadang tidak layak.

Air mata pendidik, dosen atau guru, kadang adalah ungkapan kebahagiaan demi menyaksikan perjuangan yang dilakukan oleh anak didik mereka. Saat itu saya, dengan mata kepala sendiri, menyaksikan langkah demi langkah perjuangan si mahasiswa hingga sampai menjadi “orang”.

Dan… dua tiga hari lalu ada seseorang yang memanggil saya. Saat itu saya sedang menunggu ojek online di sebuah halte depan kampus.

“Kang!”

Saya menoleh. Saya melihat ada mahasiswa di depan saya.

“Maaf, Kang, skripsi saya belum selesai. Tapi kapan bisa bertemu ya, Kang, saya mau selesai tahun ini,” katanya.

Saya tidak langsung menjawab saat itu. Ada beberapa detik yang membuat mata saya terpana demi menyaksikan mahasiswa itu… tidak dengan perawakannya, namun dengan apa yang dibawanya.

“Sementara saya jualan ini dulu, Kang,” katanya seraya menunjuk sebuah kantong yang berisi berbungkus permen asam dan berbungkus kacang telur. “Tapi, saya ingin selesai. Akang pembimbing skripsi saya.”

Saya tersenyum…. “Senin… senin ini kita berjumpa.”

Beberapa saat, ketika saya duduk di motor ojek online, saya memanjatkan doa kepada Sang Penguasa Rezeki: “Berikanlah yang terbaik untuk mahasiswa saya itu, ya Tuhan.”

… saya merasakan ada setitik air hangat di sudut kedua mata saya.

 

Kang Arul
the authorKang Arul
Dosen, jurnalis, dan penulis. Saat ini selain menjalani profesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, ia juga merupakan konsultan untuk konten digital di berbagai perusahaan, lembaga/kementerian, maupun perorangan. Profil lengkapnya sila klik http://www.kangarul.id

28 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!