Sukses Menjadi Bloggerpreneur

By -

Menjadi bloggerpreneur merupakan lompatan jauh dan transformasi bagi blogger. Jika selama ini blogger sekadar menuliskan jurnal pribadi online di internet, maka sekarang blogger bisa memberikan pengaruh (influencer) bagi pembacanya.

Tracy L Tuten (2008) bahkan telah melihat fenomena ini sebagai friendvertising yang bermakna bahwa pemasaran di era digital saat ini memanfaatkan di media sosial dan jaringan yang terbentuk. Bahwa ada pergeseran pengambilan keputusan dari seseorang yang selama ini didominasi oleh media, menjadi ke media sosial.

Di sinilah blogger menjadi salah satu sumber utama atau pemain di media sosial. Konten yang tulis oleh blogger menjadi senjata yang bisa mengubah cara kita bekerja, cara kita menjalani/memandang hidup, bahkan secara drastis mengubah  masa depan (lihat Blossom, 2009).

Salah satu cara untuk terlibat dalam perubahan ini  maka jadilah blogger  yang profesional dan  social media enthusiast. Tidak mudah, tetapi setidaknya hal ini harus dimulai dari diri blogger itu sendiri. Mulailah dengan memiliki sikap profesional sebagai bloggerpreneur, yakni CULTURE, CREATIVITY, CONCEPT, CONSISTENCY, COMPETENCY, CLIENT NETWORKING, CREDIBILITY, dan CLIENT FOCUS.

8 Kunci Menjadi Bloggerpreneur

CULTURE
Kultur atau budaya menjadi kunci sukses pertama yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi bloggerpreneur. Sebab, budaya adalah nilai-nilai yang menjadi identitas dan dari identitas itulah seorang blogger akan terlihat apakah ia profesional menjalankan profesinya atau sekadar menjadi blogger biasa.

Menjadi bloggerpreneur bukanlah seperti Aladin mengusap lampu ajaib yang mengeluarkan jin dan bisa mengabulkan tiga permintaan. Bukan pula karena gelar akademis atau seberapa tinggi indeks prestasi akademik yang sedang diraih. Juga, tidak karena jabatan atau status yang sedang dipegang.

Bloggerpreneur dibentuk karena telah memiliki kultur atau budaya. Kultur yang telah dibina dan lakukan secara kontinyu sejak lama. Antara lain, pertama, kultur mengelola waktu. Seseorang yang memilih profesi sebagai bloggerpreneur dan ingin menjalani profesi yang profesional memiliki kultur pengelolaan waktu yang efektif dan efisien. Sama halnya dengan karyawan di sebuah perusahaan, setiap bloggerpreneur harus memiliki jam kerja yang rutin. Mungkin selama satu hingga dua jam setiap pagi atau sore. Waktu tersebut dipergunakan sepenuhnya untuk bekerja menulis, melakukan riset, rutin mem-posting di blog dan sebagainya.

Budaya disiplin menjadi kunci dalam menjadikan diri sebagai seorang bloggerpreneur. Jangan datang terlambat jika ada klien atau perusahaan yang mengundang kita sebagai blogger untuk menghadiri acara. Jangan pernah memakan waktu lama untuk membuat tulisan dan mempublikasikannya di blog setelah menghadiri acara tersebut. Jangan malas menyebarkan konten blognya di jaringan sosial media. Juga, jangan enggan untuk memberitahukan si pengundang (lewat email atau di jaringan sosial media) tautan atau link dari tulisan tersebut.

Kultur mengelola waktu juga berkaitan dengan target yang harus dicapai. Artinya, seberapa lama sebuah tulisan diselesaikan, satu jam, dua jam, sehari atau seminggu? Membuat target berarti memiliki perhitungan serta perencanaan yang tepat pula. Ibarat karyawan sebuah perusahaan yang harus menyelesaikan tugas-tugasnya dalam waktu satu minggu; sang karyawan tentu berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan kewajibannya. Jika tidak, sang karyawan tentu akan ditegur atau diberikan surat peringatan; yang lebih parah lagi kalau ia dipecat. Nah, sebagai bloggerpreneur pun harus menganggap dirinya sebagai karyawan yang diserahi tugas tersebut. Sebagai karyawan profesional, sebuah tanggung jawab untuk menulis konten di blog harus diselesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan (deadline).

Buatlah agenda pekerjaan tersebut dalam time organizer dan bila akan mengadakan temu janji dengan siapapun, usahakan diluar dari agenda pekerjaan menyelesaikan calon konten yang sudah dipilih. Dan beberapa saat menjelang waktu kerja yang sudah ditentukan, segala hal sudah disiapkan; buku-buku sumber, peralatan kerja, minuman-makanan ringan, hingga (kalau perlu) berhenti melihat akun di media sosial.

Bloggerpreneur-1

Kedua, kultur menghasilkan konten untuk blog atau kebiasaan untuk menulis. Sebagai profesi, menjadi bloggerpreneur artinya selalu manghasilkan konten dengan kondisi ada atau tidak undangan dari klien. Tidak ada alasan untuk tidak menghasilkan sebuah konten apalagi tidak ada alasan untuk tidak ada ide untuk menulis posting-an blog. Bahwa harus ada target kontinyu untuk menghasilkan karya atau menulis apapun; entah apakah nantinya karya tersebut akan dibaca atau banyak dikunjungi oleh pembaca yang terpenting adalah memiliki kultur untuk menulis, selalu menulis, dan setiap waktu selalu menulis.

Persoalan kultur ini tidak hanya khusus bagi mereka yang baru menjadi blogger saja saja. Kultur menghasilkan karya ini juga kadang (kadang kebanyakan) menimpa mereka yang sudah menghasilkan sesuatu dari blog yang dikelola. Banyak blogger  yang akhirnya bersantai ketika menulis blog karena banyaknya undangan. Tulisannya jadi ala kadarnya saja sebagai penggugur kewajiban.

Padahal kultur menghasilkan karya atau menulis di blog ini akan mengasah kemampuan penulis dalam merangkai kalimat, mempertajam aspek penuangan ide-ide, hingga memfokuskan segala kondisi menjadi kondisi bekerja (menulis). Juga, dengan membiasakan menulis berarti membuat seorang blogger menjajal kemampuannya dalam menulis. Jika selama ini hanya menulis dengan sudut pandang orang pertama, maka cobalah untuk belajar menulis dengan sudut pandang orang ketiga. Bila hanya menulis review produk elektronik, maka cobalah untuk menulis produk kecantikan.

Ketiga, kultur membaca. Penulis serial thriller Stephen King pernah beruja:

“If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot…reading is the creative center of a writer’s life…you cannot hope to sweep someone else away by the force of your writing until it has been done to you”.

Kutipan ini menandakan bahwa adalah syarat mutlak jika ingin menjadi bloggerprenuer yakni  membaca . Banyak sudah penelitian yang memfokuskan diri untuk mengupas manfaat membaca bagi perkembangan emosional, kecerdasan, dan tingkah laku. Untuk menjadi bloggerpreneur, tentu saja dengan membaca banyak  pula pelampung pertolongan yang bisa diraih saat tenggelam dalam kebuntuan menulis atau  writers block. Hasil membaca, disadari atau tidak, akan membimbing bloggerpreneur berkaitan dengan gaya menulis, bagaimana menulis fakta, hingga kekayaan dalam menggunakan kosakata. Juga memperkaya visual konten dengan foto, video, atau infografis.

Pertanyaanya adalah seberapa banyak buku yang Anda baca dalam satu minggu? Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk membaca satu buku? Seringkah mengkonsumsi bahan bacaan seperti majalah, koran, atau berita online? Berapa banyak buku di perpustakaan pribadi Anda? Bagaimana dengan frekuensi mengunjungi perpustakaan? Atau jangan-jangan kita sudah cukup puas dengan tulisan blog selama ini?

bersambung

(174)

Jurnalis-Penulis-Traveler merupakan tiga rangkaian kata yang bisa menjelaskan siapa saya, selain sesekali menjadi dosen tentunya. Telah menulis 100-an judul buku. Sering memberikan pelatihan terkait PR 3.0, digital media, dan komunikasi di berbagai institusi. Selain di blog ini, ia juga memiliki weblog di www.kangarul.com dan www.dosenkomunikasi.com

17 Comments to Sukses Menjadi Bloggerpreneur

  1. Nanya dong pak dosen. Kalo kita baca terus nulis ala kita di blog apa perlu nulis sumbernya? Atau cukup keterangan dari berbegai sumber? Kan Google pengennya tulisan kita asli berdasarkan pengalaman sendiri.

  2. Menyimak dan mengaminkan semua konsep dasarnya. Semoga saya bisa konsisten berada di 9 jalur ini Culture, Creativity, Concept, Consistency, Competency, Client, Networking, Credibility, dan Client focus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *